KEBUTUHAN AKAN E-LEARNING


 Layanan pendidikan konvensional tidak selamanya mencukupi kebutuhan kebutuhan para pembelajar. Kekurangan fitur dari pendidikan konvensional ini akhirnya mendapatkan solusi dengan  hadirnya model pembelajaran e-Learning. Berbagai aspek yang berkaitan dengan kendala akses terhadap layanan pendidikan konvensional adalah:

a. Keterbatasan kemampuan finansial (financial affordance)

            Pembiayaan pada pendidikan konvensional bukan hanya masalah biaya pendidikan itu saja, tetapi juga meliputi biaya transportasi dan akomodasi untuk dapat menghadiri pertemuan dalam kelas. Hal tersebut merupakan salah satu yang tidak diperlukan dalam e-Learning. Dalam e-Learning bahan belajar dapat diwujudkan dala bentuk softfile yang berbiaya rendah (lowcost) baik dalam hal replikasinya (penggandaan) ataupun dalam hal pendistribusian.

b. Kekurang beruntungan secara fisik (physically disadvantaged)

 Kondisi fisik dapat juga menjadi kendala yang dihadapi sebagian anggota  masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan secara konvensional, misalnya  masalah mobilitas.

c. Keterbatasan waktu untuk mengikuti pendidikan pada pendidikan  formal/konvensional.

 Fleksibilitas kegiatan belajar yang ditawarkan oleh e-Learning memberikan  peluang bagi para pekerja atau pegawai untuk tetap melaksanakan kegiatan  pembelajaran dengan memanfaatkan waktu yang sesuai bagi mereka.

d. Kendala dalam pencapaian pangkat puncak bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS)  (constraint in achieving the highest rank)

Bagi para pegawai negeri sipil  (PNS), ada peraturan pemerintah yang menentukan jenjang pangkat tertinggi yang  boleh dicapai sesuai dengan tingkat pendidikan dan pelatihan. Peran e-Learning  dalam bentuk pendidikan yang flexibel memberi peluang bagi pekerja dan PNS  untuk tetap menerapkan life long learning tanpa meninggalkan pekerjaan dengan diklat online (e-training).

e. Kondisi/keadaan geografis yang sulit untuk dicapai dan jarak yang jauh.

 Penyebaran penduduk yang sangat berjauhan dengan jumlah populasi yang besar  dan keadaan geografis yang beragam menjadi kendala untuk pemerataan pendidikan  secara reguler atau konvensional.

f. Keterbatasan sarana trasportasi untuk menjangkau lembaga pendidikan  regular/konvensional.

g. Keterbatasan keuangan negara untuk menyediakan lembaga pendidikan

Menghadapi kondisi demografis dan geografis yang terpencar pencar dalam jumlah yang relative kecil diperlukan adanya kebijakan guna memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat  tanpa harus membangun lembaga pendidikan konvensional yang mungkin tidak efisien.

h. Keterbatasan lembaga pendidikan reguler/konvensional dalam memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat.

 Sebagai contoh, PPPPTK Matematika sebagai satu-satunya lembaga pemerintah  yang bertanggung jawab terhadap pengembangan kompetensi guru matematika di  Indonesia menyelenggarakan diklat online yang mampu meraup peserta secara massal dan berbentuk kelas paralel.



Sejarah E-Learning
            E-learning atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas llionis di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer assisted instruktion) dan komputer bernama PLATO. Sejak saat itu, perkembangan E-Learning berkembang sejalan dengan perkembangan dankemajuan teknologi. Berikut perkembangan E-Learning dari masa ke masa :
a. Tahun 1990 : Pada masa CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi E-Learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan Audio) dalam format mov, mpeg-1, atau avi.
b. Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara masal.
c. Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin
pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
d. Tahun 1999 sebagai tahun aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia, video streaming serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar
dan berukuran kecil.


Sumber Materi : Bahan Ajar Mata Kuliah E-Learning, https://izzahamdani.wordpress.com/tag/sejarah-e-learning/

Komentar

Postingan Populer